7 Destinasi Keren di Aljazair Bagi Backpacker

Orang-orang Arab menyebut Algeria sebagai Aljazair. Sementara Algiers (Aljir), ibu kota Aljazair, merupakan kota yang dibangun oleh Turki Ottoman. Jauh sebelum Turki Ottoman menguasai Aljazair, Kartago dan Roma, silih berganti menguasai Aljazair – yang saat itu jadi pelabuhan perdagangan yang menghubungan Afrika dan Eropa.

Mengutip Lonely Planet, lanskap Aljazair yang indah, rupanya jarang dikunjungi wisatawan. Gurun Sahara di wilayah Aljazair menawarkan oase dan lukisan-lukisan era prasejarah dari masa neolitikum. Negeri itu juga menyimpan banyak peninggalan Romawi, hingga sebelum masa kekristenan awal. Salah satunya kuburan Cleopatra dan putrinya, anak dari Kaisar Romawi Mark Anthony.

Meskipun ada saran perjalanan terkait kemanan di daerah tertentu, namun Aljazair tetaplah wilayah yang menarik. Penduduknya sangat ringan tangan, terbuka, dan ramah kepada pendatang. Bahkan Negara Afrika Utara itu dinobatkan British Backpacker Society (BBS), sebagai negeri terbaik untuk pelesiran 2020. Berikut berbagai peninggalan sejarah di Aljazair, yang dirangkum dari Atlas Obscura.

Tipaza

Kuburan Ratu Cleopatra

Meskipun merupakan salah satu negara yang paling jarang dikunjungi di dunia, Aljazair menawarkan beragam petilasan Romawi yang terpelihara di luar Italia. Di antara peninggalan terbesarnya adalah makam Cleopatra dan Selene II – putri Cleopatra dengan Kaisar Mark Anthony yang juga disebut sebagai Royal Mausoleum of Mauretania.

Selene II lahir di Mesir sekitar 40 SM. Ia dibawa ke Roma usai Cleopatra bunuh diri karena kekalahan Kaisar Mark Antony dalam Pertempuran Actium. Sekitar 10 hingga 16 tahun kemudian, ia menikah dengan Juba II, seorang pangeran Berber dari Aljazair.

Pengantin baru itu diberi perintah untuk memerintah Mauretania, sebuah negara bagian Romawi yang tidak terorganisir dan hukumnya longgar, yang membentang antara Aljazair dan Maroko. Sebagai Raja dan Ratu, keduanya sukses memerintah di Mauretania, hingga meninggal sekitar 6 SM.

Mausoleum Cleopatra memiliki ukuran gigantis, yang diperkirakan menampung anak turun Cleopatra, serta Selene II dan keluarganya.  Mausoleum Cleopatra merupakan bagian dari Situs Arkeologi Tipasa, yang terletak sekitar 40 mil di sebelah barat Aljir.

Tipaza

Reruntuhan Romawi

Tipaza kota tua yang dibangun bangsa Phoenicia (Kartago), Romawi, Roma era Kristen awal, dan Bizantium. Kota yang indah ini menghadap ke Laut Mediterania. Di antara pantai-pantai yang indah, pohon-pohon pinus yang rindang, dan perbukitan, Tipaza tampak menawarkan arsitektur bergaya Yunani, Roma, dan Timur Tengah.

Kota ini dikuasai berbagai kekuatan adidaya antara abad ke-6 SM dan abad ke-6 M, Tipasa dulunya berfungsi sebagai pusat perdagangan untuk Kerajaan Kartago. Pada saat itu, kota berfungsi sebagai pelabuhan, yang menghubungkan perdagangan dengan Yunani, Italia, dan Semenanjung Iberia. Lalu Tipasa jatuh ke tangan bangsa-bangsa Roma dan Bizantium.

Kota ini memiliki bangunan nekropolis Punisia yang komprehensif, seperti toilet kuno; sebuah amfiteater yang menyaksikan pertunjukan gladiator dan pertempuran laut, teater, kompleks keagamaan Kristen yang dilengkapi dengan pemandian air panas, basilika, dan makam.

Tipaza sejak dahulu telah memiliki jalan-jalan yang bagus, hingga menuju laut. Di bawah pemerintahan Romawi, tembok pertahanan didirikan di sekitar kota untuk melindunginya dari suku-suku nomaden. Lokasi pusat Tipasa juga memungkinkan orang Romawi untuk membangun sistem jalan Afrika Utara mereka.

Constantine

Jembatan Sidi M’Cid

GE DIGITAL CAMERA

Constantine, kota yang memiliki jurang lebar membelah perkotaan. Untuk menghubungkan daratan yang dibelah jurang itu, Constantine memiliki jembatan gantung tertinggi di dunia. Karena jembatan itu, Constantine dinamai pula “City of Bridges” berkat geografinya yang unik dan indah. Salah satu jembatan gantung tertinggi dan terbesar bernama Jembatan Sidi M’Cid.

Kota berusia 2.000 tahun ini terletak sekitar 50 mil ke daratan dari Pantai Mediterania Aljazair, dibangun di dataran tinggi yang dibelah oleh dua ngarai yang dalam dan dramatis. Serangkaian jembatan bersejarah membentang melintasi ngarai Sungai Rhummel yang mengalir melalui Constantine, tetapi Jembatan Sidi M’Cid adalah yang paling ikonik — penghubung tertinggi antara bebatuan yang membagi kota menjadi dua.

Dibangun pada tahun 1912, Jembatan Sidi M’Cid memiliki tinggi 575 kaki (175 meter). Pada saat itu, Jembatan Sidi M’Cid adalah jembatan gantung tertinggi di dunia (kemudian dilampaui oleh Jembatan Royal Gorge di Colorado pada tahun 1929). Jembatan itu mendominasi ngarai, menawarkan pemandangan luar biasa ke bagian kota dan lembah di baliknya.

Gurun Djanet

Lukisan Prasejarah di Gurun Pasir

Tepat di luar oasis gurun Djanet, Aljazair, ada taman nasional yang penuh dengan potongan-potongan masa lalu. Perjalanan melintasi lanskap mirip alien di Tassili n’Ajjer adalah seperti melangkah ke galeri seni terbuka, tempat formasi batu pasir menjadi kanvas untuk lebih dari 15.000 ukiran dan lukisan prasejarah.

Menurut UNESCO, taman ini memiliki salah satu kelompok seni cadas prasejarah terpenting di dunia. Lukisan-lukisan dan ukiran-ukiran menawarkan tampilan yang menarik pada migrasi hewan, perubahan iklim, dan kehidupan manusia yang membantu membentuk sejarah daerah itu.

Karya seni ini berasal dari periode Neolitikum, kembali ketika irisan Sahara ini adalah sabana yang penuh dengan satwa liar seperti kijang, jerapah, dan buaya. Anda akan menemukan gambar makhluk-makhluk ini terukir atau dilukis di atas batu.

Anda juga akan menemukan gambar manusia yang bertindak seperti potret historis kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, Anda akan melihat orang melakukan berbagai kegiatan seperti menari, berburu, atau menangani ternak mereka.

Selain seni, Tassili n’Ajjer patut ditelusuri karena lingkungannya yang unik. Angin telah memahat struktur batu pasir menjadi bentuk abstrak yang indah yang menjulang di atas hamparan pasir.

Karena oasis di dekatnya, bagian Sahara ini masih memiliki banyak kehidupan. Di sini, Anda akan menemukan spesies tumbuhan yang terancam punah seperti Sahara Myrtle dan Sahara Cypress. Anda bahkan dapat melihat sekilas mouflon, sejenis domba liar yang digambarkan dalam beberapa seni cadas awal.

Timgad

Petilasan Kaisar Trajan dari Roma

Terletak di provinsi Batna, Timgad adalah kota Romawi kuno yang dibangun oleh Kaisar Trajan. Kota itu terbengkalai dan tidak lagi dihuni setelah abad ke-8. Gerbang dengan pintu melengkung yang megah, yang juga disebut gerbang kemenangan atau “Arch of Trajan,” berdiri tegak. Ia selamat dari penghancuran oleh waktu, dan akhirnya direnovasi pada tahun 1900.

Tigad juga memiliki teater yang masih dalam kondisi baik. Teater itu hingga kini masih digunakan untuk pertunjukan musik modern. Kota masuk ke dalam daftar situs warisan dunia UNESCO pada tahun 1982.

Oran

Katedral Hati Kudus

Katedral Hati Kudus Oran (Cathédrale du Sacré-Cœur d ‘Oran) merupakan bagian sejarah gereja Katolik Roma di Aljazair. Gereja itu memiliki fasad yang khas Mediterania berwarna coklat dan krem. Lengkungan fasad yang berhias ornamen mengenai Yesus dan epat Injil itu, menghiasi pintu masuk gereja.

Saat memasuki gereja – sebagaimana umumnya gereja — pengunjung bisa menemukan organ, chancel (Panti imam atau area sekitar altar), dan altar berhias salib. Saat Aljazair memerdekakan diri dari Prancis, pemerintah Aljazair yang sekuler mengubahnya menjadi perpustakaan umum Oran sejak tahun 1996. Meskipun demikian, kegiatan ibadah masih bisa dijalankan, sebagaimana situs-situs keagamaan yang lain.

Katedral Hati Kudus Oran dibangun antara 1904 dan 1913, merupakan gereja pertama yang dibangun dari beton bertulang di wilayah luar Prancis. Altar juga diperkuatdengan  beton dan karenanya tidak diberkati sepanjang tahun 1930 – karena beton tidak diakui oleh hukum kanon. Katedral ini juga berfungsi sebagai latar untuk beberapa adegan yang mengharukan dalam novel Albert Camus, The Plague.

Al Madania

Monumen Memorial Martir

Monumen besar ini menjulang tinggi di atas kota sebagai pengingat abadi bagi mereka yang gugur  selama Perang Aljazair (1954-1962. Perang itu akhirnya memerdekakan Aljazair dari penjajahan Prancis.  

Dibuka pada tahun 1982 untuk menghormati peringatan 20 tahun perang kemerdekaan Aljazair melawan Prancis. Monumen itu setinggi 92 meter, yang terdiri dari struktur berbentuk tiga daun palem. Di tengahnya, terdapat api abadi yang terus menyala. Monumen tersebut didirikan di atas bekas benteng tua di sebuah bukit di Aljir. Dari monumen itu, wisatawan bisa memandang seluruh Kota Aljir dan garis pantainya.

Monumen ini bebas untuk dikunjungi (namun wisatawan dilarang mendekat ke api abadi) dan alun-alun di sekitarnya adalah tempat berkumpul warga. Di ujung alun-alun terdapat Museum Militer (Musem de l ‘Armee), yang di dalam menceritakan pasang surut hubungan Aljazair dan Prancis.